Banyak Pedagang Berjualan di Trotoar Satpol PP Tertibkan Kayutangan Heritage

Malang (TintaSantri.com) – Satpol PP Kota Malang menggelar operasi terkonsentrasi (penyakit masyarakat) sejak Kamis (21/7/2022) malam hingga Jumat (22/7/2022) dini hari. Penggerebekan dilakukan oleh Satpol PP Kota Malang, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang, dan unsur TNI-Polri.

Beroperasi di Jalan Basuki Rahmat atau lebih dikenal dengan kawasan Warisan Kayutangan. Di lokasi ini, petugas menindak empat pengelola kafe karena terindikasi tidak membayar pajak penjualan dan memanfaatkan area trotoar untuk melayani pelanggannya dengan menempatkan banyak meja dan kursi.

Keberadaan meja dan kursi serta sampah yang berserakan sangat mengganggu kenyamanan wisatawan yang datang berkunjung. Pelaku usaha tersebut kemudian dikenakan sanksi tipping dan diharuskan segera membayar pajak dan meja kursi yang tidak pada tempatnya disita oleh petugas.

Selain itu, di tempat ini petugas juga menindak juru parkir (jukir) yang menyalahgunakan area parkir. Mereka diberi panggilan untuk pelatihan khusus lebih lanjut.

Dari hasil penertiban tersebut, Kepala Satpol PP Heru Mulyono berpesan agar pemilik dan pengelola warnet di sekitar kawasan Kayutangan Heritage tidak mengulangi hal yang sama usai penertiban.

“Dengan kegiatan seperti ini, setidaknya masyarakat bisa memahami bahwa sekarang kita tidak main-main dalam menegakkan peraturan daerah (perda). Demi terciptanya keamanan, kenyamanan dan ketertiban, operasi gabungan seperti ini akan kami lakukan secara berkala,” kata Heru, Jumat (22/7/2022).

Selain itu, operasi terkonsentrasi ini menyasar sejumlah tempat, seperti di ruko yang berada di kawasan Desa Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Dari depan toko ini terlihat hanya menjual kebutuhan sehari-hari, namun ternyata juga menjual minuman keras (alkohol).

Alasan penertiban karena toko ini tidak memiliki izin untuk menjual miras dan/atau minuman beralkohol di atas lima persen, petugas gabungan juga menyita ratusan miras berbagai jenis dan merek setelah dilakukan penggeledahan. Kemudian petugas memberikan berita acara dan pemilik toko akan dikenakan sanksi pidana ringan (tipiring).

“Jika di lain waktu pemilik toko melanggar aturan ini akan dikenakan sanksi yang lebih berat,” tambah Heru.

Operasi kemudian menyasar sebuah wisma (penginapan) di kawasan Desa Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Berdasarkan pengaduan masyarakat dan hasil pantauan petugas, tempat tersebut sering dijadikan tempat prostitusi.

Setelah diperiksa, petugas menemukan delapan pemuda yang bukan pasangan suami istri. Di beberapa ruangan, petugas juga menemukan alat kontrasepsi. Di tempat ini juga tertangkap seorang wanita yang melayani pijat plus, seorang wanita yang memberikan layanan pijat tradisional, dan pasangan yang mengaku telah menikah di bawah tangan atau siri.

Tidak selektif, petugas langsung membawa kesebelas orang tersebut ke Kantor Satpol PP Kota Malang untuk dimintai keterangan lebih lanjut, kemudian menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

“Delapan remaja yang belum menikah dan yang memberikan jasa pijat plus dikenakan sanksi tipiring. Perempuan yang melayani pijat tradisional diperbolehkan pulang setelah tercatat, sedangkan bagi pasangan suami istri yang tidak terdaftar dikenakan sanksi wajib lapor,” kata Heru. (beruntung/kun)


artikel berita ini telah tayang di Berita Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *