Banyuwangi Punya BTS, Apa Itu?

Banyuwangi (TintaSantri.com) – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani meluncurkan program Banyuwangi Responsive Stunting (BTS). Program ini menjadi salah satu fokus Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk percepatan pengurangan dan penanganan stunting.

Peluncuran program diawali dengan penandatanganan pakta integritas oleh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat, dan Kepala Desa.

“Kami sengaja mengundang mereka semua, karena stunting harus ditangani secara bersamaan. Stunting merupakan masalah krusial yang harus segera diatasi. Karena jika tidak, akan menjadi masalah dalam jangka panjang,” kata Bupati Ipuk, Jumat (22/7/2022).

Dalam program BTS terdapat 5 langkah yang terdiri dari 2 basis dan 3 pilar. Kedua pangkalan tersebut membangun kerjasama dengan semua pihak. Dasar lainnya adalah berupaya maksimal menuju Banyuwangi zero stunting.

Sementara itu, tiga pilar tersebut adalah: Identifikasi balita stunting (berdasarkan nama, berdasarkan alamat/koordinat, berdasarkan masalah). Kedua, membenahi masalah faktor stunting, seperti masalah ekonomi, kondisi kesehatan, gizi, dan lain-lain.

Pilar ketiga, mengukur pertumbuhan dan perkembangan janin secara berkala sampai anak berusia 2 tahun atau 1000 hari pertama kelahiran. “Karena jika stunting lebih dari 1.000 hari, akan lebih sulit ditangani,” kata Ipuk.

Ipuk mengatakan, tenaga dan sumber daya terbatas, sehingga harus ada skala prioritas penanganan dan pencegahan stunting.

Pertama adalah penanganan. Untuk pengobatan, prioritas utama adalah penanganan anak usia kurang dari 2 tahun. Prioritas kedua adalah anak usia 2 sampai 5 tahun.

Yang kedua adalah pencegahan. Untuk pencegahan, prioritas pertama adalah ibu hamil risiko tinggi juga menjadi prioritas utama. Ibu hamil harus dipantau untuk memastikan tidak ada kelahiran dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Sedangkan prioritas kedua untuk pencegahan adalah calon pengantin, dengan memberikan pendampingan dan penyuluhan terkait stunting. Prioritas ketiga adalah wanita muda.

“Meskipun tenaga terbatas, banyak orang yang bisa terlibat. Seperti ormas-ormas perempuan, seperti Aisyiah, Muslimat, PKK, dan lain-lain,” kata Ipuk.

Untuk mendukung program ini, Pasar Tradisional dan Hari Belanja UMKM yang diadakan setiap bulan pada tanggal-tanggal indah diarahkan pada kebutuhan anak-anak stunting, seperti belanja susu, vitamin, makanan berprotein, dan lain-lain.

Setiap hari belanja mampu menghasilkan Rp 700 juta yang akan digunakan untuk target 7 ribu balita, ibu hamil dan menyusui.

Ipuk mengatakan, setiap dua minggu sekali akan ada evaluasi. Bagaimana perkembangan stunting di setiap desa dan kecamatan. Data tersebut akan terus diupdate di database sehingga camat, lurah, dan kepala OPD dapat memantaunya. “Saya akan pantau dan minta laporan penanganannya setiap dua minggu sekali,” tambah Ipuk.

Program ini diapresiasi oleh BKKBN Pusat. Menurut Teguh, program BTS sangat tepat karena stunting merupakan masalah serius.

“Kita hanya punya waktu 18 bulan lagi untuk mencapai penurunan stunting sesuai target Presiden. Ini butuh terobosan dan inovasi. Alhamdulillah konsep Banyuwangi sangat tepat,” kata Teguh.

Hadir pada peluncuran program tersebut Deputi Bidang Advokasi Gerakan dan Informasi (BKKBN), Sukaryo Teguh Santoso; Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Maria Ernawati; Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda Banyuwangi), anggota DPRD Banyuwangi, Kepala Puskesmas, dan pemangku kepentingan lainnya. (rin/ted)


artikel berita ini telah tayang di Berita Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *