Bupati Hendy Berharap Masyarakat Bergotong Royong Dukung Persid Jember

Jember (TintaSantri.com) – Keinginan klub sepak bola Persid untuk tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam mengarungi kompetisi Liga 3 tahun ini mendapat dukungan Bupati Hendy Siswanto.

“Mungkin lebih profesional dari itu. Mungkin kalau tidak dibiayai APBD, saya berharap Persid bermain lebih serius,” kata Hendy, tertulis, Sabtu (23/7/2022). Tahun sebelumnya, Persid juga tidak menerima dana dari APBD Jember, meski dikelola oleh Rezky Pratama, anggota keluarga Hendy sendiri.

Rezky mengatakan di Liga 3 musim 2022, Persid akan terus berusaha mandiri. “Kita harus lebih giat mencari sponsor. Kami tidak ingin menggunakan APBD. Sama seperti tahun lalu, semuanya berjalan lancar meski kami masih berada di Liga 3,” ujarnya.

“Tujuan saya adalah mengangkat Persid ke level yang lebih baik. Ketika kita menggunakan APBD, kita akan mengalami ketergantungan. Jadi dari awal saya mencoba belajar bagaimana mendukung klub ini dengan dana sponsor dan sebagainya. Kami belajar mandiri,” kata Rezky.

Bupati Hendy ingin masyarakat Jember ikut mendukung keberadaan klub berjuluk Macan Raung itu. “Persid ini milik Jember. Saya berharap masyarakat Jember ikut berdonasi, bekerja sama, kita bantu Persid,” ujarnya.

Hendy ingin euforia dan semangat warga saat mendukung tim sepak bola putra Jember di Pekan Olahraga Provinsi Jatim VII kembali ditunjukkan untuk Persid. “Kalau memang Persid milik kita bersama, yang membesarkan kita semua. Semua perusahaan bantu, dukung Persid. Keren,” ujarnya.

Konsep gotong royong sudah tidak asing lagi dalam sejarah sepak bola di Indonesia. Warga Surabaya memiliki usaha patungan dan menyumbangkan uang untuk menjaga klub sepak bola Mitra Surabaya tetap hidup dan sehat. Saat itu kerjasama keuangan untuk Mitra Surabaya dipelopori oleh Dahlan Iskan dan Jawa Pos.

Mitra Surabaya merupakan kelanjutan dari Niac Mitra, juara Galatama tiga kali dari Surabaya, yang bubar setelah Alexander Wenas, sang pemilik, tidak lagi berinvestasi padanya. Meski belum pernah menang, performa Mitra tidak buruk. Pada Liga Indonesia 1994-95, Mitra menduduki peringkat ke-7 Wilayah Timur, lebih baik dari klub kota Persebaya.

Pada musim 1995-96, Mitra berhasil menembus semifinal Liga Indonesia. Saat itu, Marzuki Badriawan dan kawan-kawan dikalahkan Bandung Raya 2-4 dalam adu penalti, setelah bermain imbang 0-0 di waktu normal. Musim berikutnya, Mitra kembali menembus semifinal dan dikalahkan 0-1 oleh lawan yang sama, Bandung Raya.

Pada musim 1997-98, kompetisi Liga Indonesia dihentikan di tengah jalan karena krisis politik nasional. Saat itu, Partner menduduki peringkat ke-6 di Wilayah Timur setelah memainkan 15 pertandingan. Pada tahun 1999, Mitra tidak lagi berbasis di Surabaya. Lisensi klub dibeli oleh H. Sulaiman HB yang membawanya ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah dengan nama baru: Mitra Kalteng Putra (MKP). Belakangan, nama klub ini adalah Mitra Kutai Kartanegara. [wir/suf]


artikel berita ini telah tayang di Berita Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *