Heboh Undang Hanan Attaki, Benarkah Majelis Gaul Jember Eks HTI?

Jember (TintaSantri.com) – Nama Majelis Galia memang jarang terdengar di masyarakat Kabupaten Jember, Jawa Timur. Nama komunitas ini baru muncul setelah hebohnya Ustaz Hanan Attaki Sky Concert di Jember, Jumat (29/7/2022).

Sejumlah kalangan menolak digelarnya acara yang digagas Dewan Galia itu. Wakil Bupati Jember Muhammad Balya Firjaun Barlaman mengaku belum tahu banyak tentang komunitas ini. “Saya sendiri tidak tahu seperti apa Majelis Galia itu. Jika (kegiatan) diisi dengan kegiatan langsung seperti ratib, salawat dan sebagainya, tidak ada masalah. Tapi ketika ada pembicara dan tidak cocok dengan warna di Jember, ini bisa menimbulkan potensi tidak hanya penolakan, tetapi bahkan potensi konflik,” katanya.

“Kamu bisa berbeda tetapi di wilayahmu sendiri. Kita dengan non muslim dan lainnya bisa berjalan berdampingan, apalagi kita sesama muslim. Tapi kalau sudah lompat pagar, ya ini yang ditentang orang. Karena saya bagian dari pemerintah yang harus mengurus semuanya,” kata Firjaun soal kontroversi rencana Sky Concert.

Sementara itu, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jember Cabang Izzul Ashlah menuduh mantan anggota organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia berada di balik peristiwa tersebut. “Kami memprotes acara tersebut karena penyelenggaranya adalah eks tokoh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Yang kami khawatirkan, kegiatan yang mereka lakukan akan dijadikan sebagai wadah penyebaran pemikiran mereka,” ujarnya, Jumat (22/7/2022).

Benarkah Majelis Galia adalah mantan anggota HTI? Hutri Agus Prayogo mengaku mendirikan Majelis Galia pada 17 Agustus 2017. “Bertepatan dengan hari lahirnya. Saya berpikir, apa yang bisa saya sumbangkan untuk agama, bangsa, dan negara sesuai passion saya, bidang saya. Akhirnya saya buat majelis yang bisa diterima, diterima oleh anak muda,” ujarnya.

Dengan bangga Hutri menyebut namanya merupakan akronim dari Hari Lahir Republik Indonesia. “HUTRI. Saya hanya menulis nama saya,” katanya kepada Beritajatim.com.

Majelis Galia menargetkan orang-orang muda yang tidak dekat dengan agama. “Kami tidak sedetail dan alim seperti yang ada di pesantren. Segmentasi kami adalah anak-anak yang belum bisa mengaji. Jangankan membaca buku, Anda tidak bisa hanya membaca alif ba ta. Ada banyak dari mereka: di tempat kerja, sekolah, perguruan tinggi. Mereka juga manusia yang berhak mengaji,” kata Hutri.

Hutri dan kawan-kawan memilih aktif mengunjungi kaum muda dan menyampaikan materi yang relatif ringan, seperti masalah hati, taubat, dan mengaji. Ternyata kehadiran Majelis Galia disambut baik. “Yang bergabung dengan kami datang dari berbagai latar belakang: ada yang Syiah, ada yang eks HTI, ada yang eks FPI, ada yang Wahhabi, ada yang NU dan Muhammadiyah,” ujarnya.

Hutri mengatakan jumlah anggota Majelis Galia online mencapai 27 ribu orang dari Aceh hingga Papua. “Sementara di ring pertama ada 80 resital offline intensif. Pada dering kedua, ada 970 orang yang mengaji. Sedangkan jemaah umum di ring tiga Jember saja tujuh ribu orang,” katanya.

“Ini bukan metode klasik. Hanya satu orang yang sistematis. Ada sembilan orang yang menjadi mentor. Di bawah mereka ada 20-30 orang lagi. Dalam bahasa kitab, ini adalah halaqoh yang berkelanjutan. Jika ada anggota ring pertama yang melewati satu surah Al-Qur’an misalnya, maka dia akan mengajari 10 anggota ring di bawahnya tentang surah yang telah mereka kuasai,” kata Hotri.

Lokasi dakwah bisa di masjid, kafe, pantai, bioskop, dengan basis utama tetap di masjid. “Kami tidak ingin merusak organisasi manapun. Kami fokus berdakwah ke anak muda: anak kantoran, anak kuliahan, anak nongkrong. Kita tidak bisa memaksakan teman yang luar biasa di pondok. Kita harus bijak dan mengalah,” kata Hutri.

Hutri mengaku terinspirasi dari gaya dakwah sembilan wali Jawa yang disebut Wali Songo. “Kami ikut tarekat dakwah Wali Songo. Dakwah itu merangkul, bukan memukul,” ujarnya.

Metodologi dakwah juga dirumuskan agar anggota Dewan Galia bisa merasa senang dan tidak dipaksa untuk ikut dalam kegiatan Islam. Mereka melakukan perjalanan ke tempat-tempat wisata untuk mengaji. “Kita memang sengaja ke tempat-tempat wisata, instagramable, foto-foto bagus, tapi kegiatannya mengaji, membaca salawat pendek, atau tanya-tanya masalah kekinian. Kita juga bikin film-film islami dan acara camping, alam tadabuur,” kata Hutri.

Hutri menyadari bahwa kegiatan Majelis Galia bisa disalahpahami. “Tapi tidak apa-apa. Kita tetap berpikir positif,” ujarnya. [wir/kun]


artikel berita ini telah tayang di Berita Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *