Warga dan puluhan santri Pondok Pesantren Pari Ulu di Desa Sumbercangkring menyantap bersama tumpeng sebagai bentuk rasa syukur.

Lesatarikan Tradisi Budaya, Puluhan Warga Desa Sumbercangkring Kediri Gelar Tradisi Barikan

Kabupaten Kediri || bratapos.com – Warga Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri menggelar Tradisi Barikan, Sabtu (30/7/2022). Selain untuk menyambut tahun baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah, tradisi ini juga untuk melestarikan apa yang sudah ada sejak 1 Muharram 1325 Hijriah atau 1907 Masehi.

Tradisi Barikan sendiri merupakan tradisi Nusantara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa dengan tujuan untuk menolak bala (bahaya) agar kehidupan terhindar dari bencana alam atau berbagai penyakit, baik yang menyangkut tumbuhan, hewan maupun manusia.

Tradisi Barikan diawali dengan prosesi tumpeng lengkap oleh warga dan puluhan santri Pondok Pesantren Pari Ulu di Desa Sumbercangkring. Mereka mengelilingi desa. Sementara itu, warga lainnya menyaksikan tradisi yang pertama kali digelar sejak berdirinya kampung tersebut pada 1 Muharam 1325 Hijriah.

Tradisi Barikan di Kediri kembali dilestarikan oleh masyarakat Desa Sumbercangkring

Usai mengarak 70 tumpeng keliling desa, tumpeng yang terdiri dari buah dan ayam ingkung milik warga itu dipahat di sepanjang jalan desa. Warga kemudian mengikuti salat berjamaah di tanah yang konon dipercaya sebagai cikal bakal Desa Sumbercangkring itu kemudian menyantapnya bersama.

Tokoh masyarakat Desa Sumber Cangkring dan pengurus Pondok Pesantren Pari Ulu, Sumber Cangkring Gurah, KH Mustin Ansori menjelaskan tentang tradisi tersebut. Apa yang dilakukan warga dan mahasiswa merupakan tradisi dan sarana warga untuk melestarikan budaya.

“Jadi tumpeng (tradisi) ini hanya sarana saja, untuk memudahkan penggunaan doa di situs ini, orang menyebut Situs Sentono Cangkring. Untuk memperingati awal mula babat tanah (desa) Sumbercangkring, dan inilah tempatnya. Di Sekaligus ini tradisi yang sudah lama tidak dilakukan, akan kita hidupkan kembali,” ujar salah satu tokoh masyarakat, KH Mustain Anshori.

Dijelaskannya, acara karnaval tumpeng adat setiap 1 Suro ini dilakukan untuk mendapatkan berkah. Apalagi di era saat ini dimana pandemi COVID-19 atau penyakit lainnya masih merajalela di masyarakat.

Berdasarkan cerita masyarakat, tradisi ini sudah dilakukan sebelumnya, yakni sejak abad ke-19 yang lalu. Namun, kurangnya pelestarian adat budaya membuat tradisi tersebut hilang dan tidak dilanjutkan lagi. Oleh karena itu, masyarakat setempat bersama-sama membangun kembali tradisi yang ada.

“Ini (tradisi) dibangun kembali untuk mengenang sejarah dan salah satunya di sini, situs ini (Sentono) sudah ada, sebelum desa ini didirikan,” tambah KH Mustin.

Sedangkan makna dari prosesi tumpeng itu sendiri, kata KH Mustin, adalah keseimbangan alam flora dan fauna dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga masyarakat Indonesia khususnya Desa Sumbercangkring selalu mendapatkan berkah dari alam.

“Jadi selamatan ada buah-buahan, ayam ingkung dan makanan, sebagai contoh. Sehingga desa ini khususnya Indonesia benar-benar menjadi negara yang kaya akan segala hal. Mudah-mudahan begitu,” pungkas KH Mustin.

Wartawan : Susilowati
Redaktur : ryanti

artikel berita ini telah tayang di bratapos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *