Membuka Pintu Jember Sport Garden

Bupati Hendy Siswanto membuka pintu Stadion Jember Sport Garden di Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk klub sepak bola Liga 1 dan Liga 2 yang akan bermarkas. Suasana dan antusiasme masyarakat Jember dalam menonton pertandingan sepak bola menjadi modal penting untuk menarik minat klub Liga 1 dan Liga 2 yang tidak memiliki pendukung tradisional.

“Ini kesempatan bagus untuk kompetisi sepak bola di Indonesia. Jember memiliki penggemar yang luar biasa. Mereka suka sepak bola, membawa suami, istri, dan anak-anak mereka untuk menonton. Ini merupakan masa depan yang baik bagi industri sepak bola di Jember. Jember siap melayani Liga 1, 2 dan 3, serta kompetisi sepakbola apa pun,” kata Hendy.

Hendy menyebut antusiasme warga saat menyaksikan pertandingan final pertandingan sepak bola putra Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur VII. Ribuan orang memadati Stadion Semeru, Lumajang, bahkan memadati tepi lapangan untuk menyaksikan pertandingan tim Jember melawan Pasuruan. Ia melihat warga tidak hanya haus akan tontonan tapi juga prestasi.

Selama bertahun-tahun, kebanggaan warga Jember, Persid, tidak pernah menjuarai kompetisi tingkat nasional. Terakhir, klub berjuluk Macan Mengaum itu menjuarai Divisi II pada 2002 atau 20 tahun lalu. Gelar nasional terakhir tidak diraih oleh Persid, melainkan Jember United dan Pesantren Nurul Islam. Jember United menjuarai Piala Suratin 2014 dan tim sepak bola Pesantren Nurul Islam menjuarai Liga Santri Nusantara 2015. Sementara itu, prestasi tertinggi Persid tahun 2017 adalah juara Piala Suratin Zona Jawa Timur.

Dengan minimnya piala yang datang ke Jember, tak heran jika medali emas sepak bola Provinsi Jawa Timur VII disambut dengan suka cita. Semangat yang sempat padam selama bertahun-tahun tiba-tiba muncul kembali. Hendy Siswanto sepertinya tidak ingin api semangat padam lagi. Berharap Persid kembali meraih prestasi seperti 2002 jelas sulit. Persaingan semakin ketat. Jadi memberi jalan kepada klub luar untuk pulang dan membangun basis pendukung di Jember adalah pilihan yang realistis.

Apalagi Jember pernah menjadi markas klub sepak bola Bentoel Galatama dalam kompetisi Liga Utama Sepak Bola (Galatama) 1990-1992. Penonton memadati Stadion Notohadinegoro yang berkapasitas tujuh ribu pengunjung. Kuatnya pengaruh Bentoel ditunjukkan dengan kuatnya warna biru sebagai stigma warna identitas tim sepak bola Jember, yang bertahan bertahun-tahun setelah Bentoel bubar. Bahkan Persid sudah bertahun-tahun memakai kostum biru.

Tentu saja klub Liga 1 atau Liga 2 yang berbasis di Jember Sport Garden tidak akan memiliki pendukung di Jember. Namun bukan berarti penonton tidak akan datang. Semua klub selalu memiliki potensi untuk membangun basis massa pendukung di sebuah kota jika mereka bisa menunjukkan performa yang bagus.

Teorinya sederhana: pada dasarnya semua orang ingin terlibat dalam pengalaman untuk menjadi yang terbaik, untuk memenangkan sesuatu dalam hidup. Dari sanalah kebanggaan dibangun. Persija adalah contoh yang baik bagaimana basis dukungan yang kuat dapat dibangun meskipun pada awalnya tidak memiliki banyak pendukung di antara warga Jakarta yang beragam.

Klub baru tidak akan mengikis dukungan masyarakat terhadap Persid sebagai klub asli Jember. Pengalaman membuktikan bahwa penonton Jember berbagi dukungan. Hal ini terlihat saat Jember United masih ada dan bermarkas di Jember. Penonton mendambakan hiburan sepak bola yang berkualitas dan, jika mungkin, juara.

Kedatangan klub Liga 1 dan Liga 2 yang bermarkas di Jember membuat nama kota ini semakin dikenal, berkat siaran langsung pertandingan di televisi. Ini seperti iklan gratis untuk Jember. Beberapa tahun lalu, Bupati MZA Djalal membentuk tim voli Indomaret untuk mengikuti kompetisi liga super agar bisa disiarkan langsung di televisi. Upaya ini tentu saja membutuhkan biaya.

Namun, dengan membuka pintu JSG untuk klub Liga 1 dan Liga 2, Pemkab Jember tidak perlu mengeluarkan uang, karena justru mendapat pemasukan dari biaya sewa stadion. Selain berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), biaya sewa ini juga bisa digunakan untuk perawatan stadion tanpa bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Setiap pertandingan sepak bola juga menjanjikan pergerakan ekonomi, karena transaksi yang melibatkan pedagang kecil bisa menggeliat. Sektor perhotelan akan hidup, karena kedatangan 17 tim peserta Liga 1 yang bertandang ke Jember.

Proyeksi ideal ini tentunya membutuhkan kerja keras. Sebelum menyambut kedatangan klub Liga 1 dan Liga 2, Pemkab Jember harus bekerja keras memperbaiki kondisi Stadion Sport Garden Jember. Tidak hanya infrastruktur pelengkap, tetapi yang lebih penting adalah peningkatan kualitas rumput lapangan.

Dari sisi daya tampung jumlah penonton, JSG sangat memadai, yakni 20 ribu penonton. Namun, tahun lalu, Persatuan PSSI Provinsi Jawa Timur menilai lapangan rumput di JSG tidak layak digunakan untuk pertandingan resmi sepak bola. Jadi tidak ada jalan lain, sebagian APBD harus dialokasikan untuk perbaikan rumput lapangan sepak bola dan peningkatan sarana dan prasarana lainnya seperti pemasangan papan skor elektronik.

Perbaikan kondisi lapangan juga tidak dilakukan untuk JSG, tetapi juga Stadion Notohadinegoro yang berpotensi menjadi lapangan pendamping latihan. Bukan rahasia lagi jika kondisi lapangan Notohadinegoro dikeluhkan oleh tim-tim yang bermain di sana. Bahkan, pelatih tim sepak bola Porprov Jember, M. Rofiq sendiri mengatakan, kondisi lapangan tidak layak karena bergelombang.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah keamanan aset stadion. Tahun ini ada dua pencurian properti stadion, yakni kabel pada pertengahan Maret dan kursi pada pertengahan Juli. Pencurian tersebut memperburuk nama Jember dan b berpotensi kehilangan kepercayaan dari pihak luar. [wir]


artikel berita ini telah tayang di Berita Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *