Pemerintah Perlu Ekstra Hati-hati, Karena Resesi Dinilai Akan Lebih Banyak Didorong Oleh Faktor Non Ekonomi

Jakarta (TintaSantri.com) – Pemerintah diminta ekstra hati-hati dalam mengambil kebijakan, terutama dalam mengelola belanja yang tidak produktif, karena akan berdampak serius pada perekonomian.

Kehati-hatian ini akan menghindarkan Indonesia dari resesi atau krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1998. “Kita masih terbantu dengan rejeki nomplok, untung dari kenaikan harga komoditas. Tapi komoditas ini, yang tidak kami kuasai, sewaktu-waktu bisa pergi,” kata Anis Matta.

Menurut Anis Matta, perekonomian Indonesia saat ini belum sepenuhnya aman dari resesi. Sehingga pemerintah tidak perlu membela diri hanya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat, bahwa Indonesia tidak akan dilanda resesi.

“Jauh sebelum krisis ekonomi 1998 meledak, kita selalu mendengar mantra dari para ekonom, bahwa fundamental ekonomi kita kuat. Tapi kenyataannya, kita sedang dilanda krisis dan tiba-tiba mantra itu hilang,” kata Anis Matta.

Upaya ini, kata Anis Matta, saat ini sedang diulangi oleh pemerintah saat ini dengan mengatakan bahwa potensi resesi Indonesia kecil.

“Apakah mantranya sama dengan yang kita baca sekarang atau tidak, kita lihat nanti, karena krisis punya cara kerjanya sendiri. Tapi yang kita lihat setiap hari adalah wajah-wajah masyarakat yang semakin kesal, frustrasi, dan putus asa,” katanya.

Anis Matta menegaskan, krisis yang berlarut-larut saat ini akan terus menimbulkan ledakan dan tabrakan yang tak terduga. Tabrakan ini akan menciptakan fragmen peristiwa besar.

Krisis ekonomi saat ini, lanjutnya, selain bersifat sistemik juga dipengaruhi oleh banyak faktor geopolitik seperti perang supremasi antara Amerika Serikat dan Rusia yang berdampak pada harga komoditas global.

“Banyak negara mengalami guncangan politik yang luar biasa akibat krisis ekonomi. Masalah kita sebagai bangsa yang berpihak pada konflik supremasi ini, kemungkinan besar kita akan menjadi collateral damage,” ujarnya.

Oleh karena itu, Anis Matta berharap pemerintah dapat membaca arah krisis global, seperti kemana arah selanjutnya dan di mana titik aman Indonesia agar tidak menjadi jaminan kerusakan.

“Dalam konteks ini, Partai Gelora meminta pemerintah untuk membaca situasi kami lebih lengkap dalam mengelola situasi makro dengan tidak membenarkan pemborosan anggaran dalam pengeluaran kami. Itu adalah kesalahan yang sangat besar,” katanya. (ke/hanya)


artikel berita ini telah tayang di Berita Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *