Tarekat dan Perubahan Pilihan Politik (3)

Surabaya (TintaSantri.com) — Perubahan pilihan politik KH Mustain Ramli, seorang mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, yang melabuhkan pilihan politiknya kepada Golkar (sekarang Partai Golkar), mengakibatkan fragmentasi sosial di kalangan komunitas tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Langkah Kiai Mustin mendapat reaksi keras, baik dari tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, keluarganya, maupun organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada tataran lebih lanjut, fragmentasi sosial lembaga tarekat tidak dapat dihindarkan. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah terbagi menjadi tiga: Tarekat Rejoso Jombang, Tarekat Cukir Jombang di bawah pimpinan KH Adlan Ali dan KH Makki Maksum, dan Tarekat Kewall Lor Surabaya di bawah pimpinan KH Utsman Ishaqi.

Dalam perspektif ajaran amaliah, tidak ada perbedaan yang tajam dan signifikan antara ketiga tarekat tersebut. Baik yang berkaitan dengan isi dzikir, wirid, upacara ritual lainnya. Sebab, ketiganya berasal dari sumber yang sama: Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Pondok Darul Ulum Rejoso Jombang yang dirintis sejak zaman KH Ramli Tamim.

Sedangkan kitab-kitab referensi yang digunakan sebagai pedoman praktikum antara lain Samratul Fikriyyah dan Futuhat al Rabbaniyyah, yang berisi tentang ajaran pokok dan amalan yang harus dijalankan oleh para penganut atau tarekat tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Ketiga tarekat ini memiliki pandangan yang berbeda tentang sikap dan tanggapan politik terhadap politik pemerintahan Orde Baru Suharto. KH Dimyati Ramli, mursyid tarekat Rejoso pasca wafatnya KH Mustain Ramli, mengatakan dalam memperjuangkan Islam, cara pandang dan langkah Kiai Mustin jauh ke depan. Jika tidak melalui jalur pemerintah pada tahun 1970-an, lembaga tarekat ini menghadapi banyak kendala dan kesulitan dalam melaksanakan ajarannya.

“Meskipun tarekat Rejoso berafiliasi dengan Golkar, diakui ada afiliasi politik anggota tarekat yang berbeda, misalnya mendukung PPP. Tidak ada masalah dengan itu, tetapi mereka akan didekati dan disadarkan untuk memilih dan mendukung Golkar. Karena pemerintah dinilai sangat baik dengan umat Islam, bahkan melindungi aktivitas umat Islam,” kata Kiai Dimyati Ramli seperti tertulis dalam disertasi Mahmud Sujuthi (2001).

Bagaimana Golkar mendekati Kiai Mustin, sehingga mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Rejoso ini berbalik mendukung partai? KH Arwani Mukhid, salah satu dosen tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah sejak Kiai Mustin masih menjadi penanggung jawab tarekat, mengatakan Kiai Mustin sering dikunjungi orang atau tokoh dari Surabaya dan Jakarta sebelum bergabung dengan Golkar. Intensitas kedatangan tokoh-tokoh dari Surabaya dan Jakarta sangat tinggi.

Meski telah bergabung dengan Golkar, Kiai Mustin tidak khawatir dibenci dan dikeluarkan dari NU. Seperti yang ditulis Mahmud Sujuthi dalam disertasinya, menyikapi situasi pelik ini, Kiai Mustin berkata, “Bagaimana saya bisa keluar dari NU, karena istri saya adalah putri pendiri NU (KH Abdul Wahab Chasbullah) dan saya lahir di lingkungan NU. “.

Pesanan Cukir

Fragmentasi sosial yang tajam dari sikap Kiai Mustain dan perubahan pilihan politik dari PPP ke Golkar adalah terbentuknya lembaga Qadiriyah wa Naqsabandiyah Cukir di bawah pimpinan KH Adlan Ali, KH Makki Maksum dan beberapa kiai lainnya. Pemisahan dari tarekat Kiai Mustain (Rejoso) bukan karena masalah Golkar, tetapi karena mata rantai ajaran tarekat Rejoso adalah munqathi’ (mata rantai ajaran terputus).

“Menurut mereka, Kiai Mustain telah berani melenyapkan seorang mursyid dari garis keturunan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, yaitu Kiai Utsman Ishaqi dari Surabaya. Karena munqathi’, berarti nasab Rejoso tidak sah. Padahal, validitas silsilah tarekat sangat menentukan validitas praktik tarekat. Karena terputus maka wajib ada keintiman (transfer) kepada guru atau mursyid lain yang jelas dan muntasil (bersambung) dalam sanadnya,” tulis Mahmud Sujuthi.

“Kalau munqathi, kasihan orang-orangnya, karena amalannya tidak diterima,” tambah KH Makki Maksum, salah satu pengurus jamaah Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Cukir Jombang. Yang jelas, tarekat Cukir sejak awal menjadi pendukung PPP. Sebab, NU masih berafiliasi dan menyatu dengan PPP. Kiai Makki Maksum menegaskan bahwa tarekat Cukir mendukung PPP, karena PPP adalah pewaris NU.

Oleh karena itu, setelah kebijakan prinsip tunggal dilaksanakan dan semua partai politik dan Golkar diharuskan berdasarkan Pancasila, Kiai Makki Maksum selaku pimpinan tarekat Cukir tetap berpendapat bahwa PPP adalah partai Islam, karena dalam PPP semua (elit dan pendukungnya) adalah Muslim. Setelah kebijakan kembali ke khittah NU tahun 1926 diputuskan dalam Muktamar NU di Situbondo tahun 1984, Kiai Makki Maksum menjelaskan, kembali ke khittah bukan berarti NU sudah lepas dari PPP.

Mahmud Sujuthi dengan jelas mengungkapkan perbedaan orientasi politik ketiga tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah tersebut. Dari segi perilaku, jemaah Rejoso menyesuaikan/ mengakomodir kebijakan politik pemerintah (adaptif akomodatif). Jemaat Cukir cenderung menolak kebijakan politik pemerintah (antagonis). Sedangkan jemaah Kewall Lor bersedia bekerjasama dengan pemerintah (koperasi).

Dilihat dari pola pikir, jemaah Rejoso adalah rasionalistik, realistis dan substantif. Bagi Jemaat Cukir, bersifat skripturalistik, idealis, dan formalistik. Sedangkan jemaah Kewall Lor bersifat rasionalistik, realistis dan substantif. “Dari sisi afiliasi politik, jemaah Rejoso dekat dengan Golkar, jemaah Cukir mendukung PPP, dan jemaah Kewall Lor netral. Dari segi ritual, ketiga tarekat ini sama sekali tidak ada perbedaan,” kata Mahmud Sujuthi (2001). [air/habis]


artikel berita ini telah tayang di Berita Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *