WCC Mojokerto Tangani 6 Laporan Kasus Anak

Mojokerto (TintaSantri.com) – Women Crisis Center (WCC) Mojokerto telah mengantongi enam laporan kasus anak di Mojokerto Raya. Hal itu disampaikannya saat melakukan aksi damai dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2022 di Alun-alun Kota Mojokerto, Sabtu (23/7/2022).

Dalam aksi damai ini, WCC Mojokerto memparodikan aksi seorang guru ngaji di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang menindak murid-muridnya. Di tengah pengajian, siswa diperlihatkan video porno yang berujung pada perbuatan cabul.

Ketua WCC Mojokerto, Yuni Safra mengatakan enam kasus anak yang dilaporkan mulai dari kekerasan terhadap anak, penelantaran hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Korbannya puluhan, seperti kasus pencabulan yang dilakukan oknum guru ngaji di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto,” katanya.

Ia berharap orang tua, masyarakat, dan negara dapat mendukung pembangunan dan memaksimalkan perlindungan terhadap anak. Sehingga dalam memperingati HAN 2022 diharapkan dapat meningkatkan kesadaran tentang hak-hak anak yang layak mereka dapatkan.

“Anak-anak yang kurang beruntung dalam hidup, serta masalah anak-anak lain yang perlu diatasi bersama. Kami meminta perhatian lebih dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah kekerasan seksual terhadap anak dan memberikan perlindungan bagi anak,” katanya.

Dengan tujuan menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air. Sehingga diharapkan secara langsung mendorong berbagai pihak untuk memberikan kepedulian langsung di tengah-tengah masyarakat.

“Anak adalah aset penerus bangsa yang akan memimpin di masa depan. WCC Mojokerto mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama memerangi kekerasan seksual terhadap anak dengan berperan aktif sebagai polisi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga meminta tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak. WWC Mojokerto menghimbau kepada masyarakat atau korban agar kasus kekerasan seksual tidak perlu malu dan takut untuk melapor kepada pihak yang berwajib dan pemerintah daerah dapat memfasilitasi dan mengedukasi masyarakat.

“Itulah tentang pentingnya melindungi anak. Mengutip dari PPA Symphony, pada tahun 2020 jumlah korban kekerasan yang dilaporkan sebanyak 20.501 dengan 56,5 persen korbannya adalah anak-anak. Pada tahun 2021, jumlah korban kekerasan yang melapor 25.210 dengan 56,5 persen korban adalah anak-anak,” jelasnya.

Terdapat peningkatan 4.709 korban kekerasan yang dilaporkan pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020. Selain itu, berdasarkan tempat kejadian, kasus kekerasan terbanyak terjadi di lingkungan rumah tangga. Di Mojokerto, pendidikan agama menjadi sarana bagi pelaku untuk melakukan kekerasan seksual.

“Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dijelaskan bahwa negara wajib menjamin kesejahteraan setiap warga negara, termasuk perlindungan anak. Anak-anak memiliki hak yang disetujui oleh Majelis Umum PBB, setidaknya ada sembilan hak anak,” jelasnya.

Yakni, hak atas perlindungan, hak atas pendidikan, hak atas identitas diri, hak atas persamaan, hak atas pelayanan kesehatan, hak rekreasi, hak bermain, hak atas pangan, dan hak kewarganegaraan. Namun, pihaknya mengapresiasi pemerintah dan aparat kepolisian yang sudah tanggap terhadap kasus-kasus yang melibatkan anak.

“DP2TP2A Kabupaten Mojokerto dan kepolisian luar biasa mendukung kami, kami sangat berterima kasih. Fenomena kekerasan terhadap anak seperti gunung es, artinya banyak kasus yang belum terlihat karena korban takut untuk angkat bicara. Korban yang ingin melapor bisa menghubungi 0877-7200-3696,” ujarnya. [tin/but]


artikel berita ini telah tayang di Berita Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *