6 Motif Batik Ratu Tribuwana Tunggadewi Mojokerto Tercatat di HAKI

6 Motif Batik Ratu Tribuwana Tunggadewi Mojokerto Tercatat di HAKI

Mojokerto (berita jatim.com) – Ada enam karya pengrajin batik di Kabupaten Mojokerto yang tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Salah satunya adalah motif batik Suko Projo Sawiji milik pengrajin batik tulis ‘Rasu’an Lampahan’ asal Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Motif yang terinspirasi dari Ratu Tribuwana Tunggadewi ini tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual Indonesia (HAKI) atas nama Lina Destiana Pratiwi (40).

Perempuan yang akrab disapa Lina ini mengaku difasilitasi Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbudpora) Kabupaten Mojokerto dalam mematenkan motif batiknya.

“Motif batik Suko Projo Sawiji baru saja dipatenkan dan akan digunakan pertama kali oleh Camat Sooko pada peragaan busana Maja Fest 2022. Motif batik ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena idenya berasal dari Petilasan Tribhuwana Tunggadewi. Ratu Tribhuwana Tunggadewi adalah ratu yang menaklukkan nusantara,” ujarnya, Rabu (3/8/2022).

Sehingga filosofi tersebut mengandung makna kejayaan dan kemakmuran serta motifnya merupakan perpaduan antara relief Watu Ombo dan relief arca Tribhuwana Tunggadewi yang disamarkan bentuknya.

Petilasan Tribhuwana Tunggadewi dipilih karena Petilasan Tribhuwana Tunggadewi terletak di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

“Ada 25 motif batik, tapi motif Suko Projo Sawiji sudah terdaftar di HAKI. Sebenarnya bisnis saya adalah perancang busana. Beberapa tahun lalu, UNESCO menyatakan bahwa batik ditentukan oleh kearifan budaya yang berasal dari Indonesia. Jadi saya merasa tergerak dan ingin mengembangkan desain saya tidak hanya di fashion design tapi di batik tulis,” ungkapnya.

Pengrajin batik menulis ‘Rasu’an Lampahan’ di Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Lina menjelaskan, batik yang dihasilkan adalah batik tulis dan menggunakan pewarna alami sehingga harganya sedikit mahal. Jika sudah didesain dalam bentuk pakaian dan alas kaki lengkap, harganya bisa mencapai Rp. 6 juta. Saat pandemi sudah terkendali seperti sekarang, dia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto banyak menggelar festival atau pameran.

“Kami berharap Pemkab Mojokerto akan banyak menggelar festival atau pameran yang mempromosikan promosi UMKM di Kabupaten Mojokerto, khususnya fashion show batik Kabupaten Mojokerto. Hal ini untuk memberikan angin segar bagi para pelaku ekonomi kreatif seperti dirinya agar dapat bertahan dalam menjalankan usahanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Disporabudpar Kabupaten Mojokerto Anton Subendi mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan Pemkab Mojokerto untuk mendukung keberadaan batik Majapahit. Diantaranya dengan memfasilitasi pencatatan motif karya perajin pada Hak Kekayaan Intelektual Dirjen Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

“Di sini, kami memfasilitasi karya-karya pengrajin. Sudah ada enam motif batik Majapahit yang tercatat dalam HAKI, yaitu Sooko Projo Sawiji, Bader Sekar Mojo, Suryo Ageng Aksoro Jowo, Ukel Ujung Majapahit, Parang Mojo, dan Sekar Sungsang. Tidak hanya itu, event dan kompetisi rutin diadakan setiap tahun untuk mendorong kreativitas perajin batik,” ujarnya.

Masih kata Anton, acara yang digelar Pemkab Mojokerto ini akan dilombakan. Motif pemenang akan dipilih untuk seragam Pemkab Mojokerto. Namun, sejauh ini, lanjut Antom, baru satu motif batik Kabupaten Mojokerto yang dibuat seragam, yaitu batik Surya Majapahit. [tin/ted]


artikel berita ini telah tayang di TintaSantri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *