Airlangga Hartarto Dorong Pesantren Punya Usaha Sendiri

Airlangga Hartarto Dorong Pesantren Punya Usaha Sendiri

Jakarta (TintaSantri.com)– Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, mendorong pesantren untuk mendirikan usaha sendiri. Dia mencontohkan, di Jawa Timur ada pesantren yang memiliki usaha bakery.

Begitu pula salah satu pondok pesantren di Jawa Barat yang telah dibantu oleh pemerintah mendirikan pabrik sandal jepit.

“Ada 20 ribu santri,” kata Airlangga di hadapan para santri dan kyai Pondok Buntet Pesantren Cirebon seperti dalam keterangan tertulis yang diterima hari ini.

Menurut Ketua Umum Partai Golkar itu, jumlah santri yang mencapai puluhan ribu membuat kebutuhan akan sandal jepit di pesantren juga tinggi. Maka pendirian pabrik sandal jepit sangat tepat. Selain untuk menghindari pencurian sandal jepit, pabrik sandal jepit juga bisa menjadi salah satu upaya mendukung perekonomian pondok pesantren.

“Kalau produksinya banyak, dan kuantitasnya juga berlebihan, bisa-bisa kita ekspor sandal jepit,” kata Ketua Umum Golkar yang disambut ribuan orang yang memadati pelataran dekat masjid utama Pesantren Pondok Buntet itu.

Ia juga meminta Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang mendampingi kunjungan Airlangga membantu mengembangkan ekonomi pesantren. Dengan jumlah mahasiswa yang mencapai 11.000 orang, menurut Airlangga, sudah selayaknya memiliki pabrik sandal jepit.

Jajaran Sesepuh Pondok Pesantren Pondok Buntet KH. Adib Rofiuddin Izza mengatakan, selama dua tahun pandemi COVID-19, pihaknya menggelar online haul. Di pesantren, haul hanya diikuti oleh santri dan masyarakat sekitar.

Baru pada 2022, kata Kiai Adib, haul Pesantren Pondok Buntet dilaksanakan tatap muka dan dihadiri ratusan ribu orang dari sejumlah daerah di Indonesia.

“Alhamdulillah yang bisa ikut haul kali ini istimewa yaitu Pak Airlangga Hartarto,” kata Kyai Adib.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto (khusus)

Kiai Adib menjelaskan tentang usia Pesantren Pondok Buntet yang didirikan oleh Mbah Muqoyyim pada tahun 1750 M Haul mulai diperingati setelah wafatnya KH. Abdul Jamil yang merupakan ayah dari KH. Abbas. Sedangkan KH. Abdul Jamil sendiri, adalah anak dari KH. Muta’ad yang juga merupakan cucu atau cicit dari Mbah Muqoyyim. “Mungkin saat ini penyelenggaraan haul sudah lebih dari 100 tahun,” kata Adib.

Tolong dukung

Pada kesempatan yang sama, Airlangga yang juga Ketua Bidang Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional meminta doa dan dukungan dari para kiai dan santri Pondok Pesantren Buntet, agar kuat dan mampu mengemban amanah tersebut. .

“Situasi saat ini penuh ketidakpastian. Selain terdampak pandemi, perekonomian juga terdampak konflik antara Rusia dan Ukraina, serta kawasan lainnya. Kondisi geopolitik ini sangat tidak menguntungkan bagi upaya pemulihan ekonomi. Jadi, saya mohon doa dari para kiai, agar bisa mengawal upaya pemulihan ekonomi dan menyelesaikan dampak Covid-19,” kata Airlangga.

Khusus untuk penularan Covid-19 di Indonesia, Airlangga Hartarto mengatakan jauh lebih rendah dibandingkan negara lain. Meski saat ini PPKM di Indonesia sudah masuk level 1, namun angka penularan Covid-19 masih mencapai 5.000 kasus setiap minggunya. Prancis per minggu ada peningkatan 90.000 kasus, Amerika Serikat sekitar 120.000 kasus dan Jepang 200.000 kasus per minggu, katanya.

Menurut Ketua Umum Partai Golkar itu, rendahnya angka penularan COVID-19 di Indonesia merupakan salah satu dampak dari tingginya capaian vaksin. Pencapaian vaksinasi dosis 1 di Indonesia sudah mencapai lebih dari 90 persen. Pencapaian dosis 2 telah mencapai lebih dari 80 persen dan dosis 3 telah mencapai lebih dari 30 persen atau lebih dari 420 juta vaksin.

“Negara kita menjadi salah satu yang terbaik dalam penanganan Covid-19. Salah satu kunci keberhasilan pencapaian vaksin tersebut adalah adanya dukungan dari para ulama dan pengasuh pesantren seperti Buntet, yang membuat masyarakat percaya dan ingin divaksinasi. Saya di sini untuk berterima kasih kepada kyai,” jelas Airlangga.

Apresiasi Peran Penting Ulama dalam Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi

Selain itu, perekonomian Indonesia terus mengalami pertumbuhan positif dalam 3 triwulan
terakhir dan tercatat di atas 5% (yoy). Badan Pusat Statistik juga telah mengumumkan
pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2022 mampu menyentuh angka 5,44% (yoy).

Hal ini mendorong optimisme dan sinyal positif bagi Pemerintah dan masyarakat
tentang prospek penguatan ekonomi nasional ke depan.

Dengan pandemi Covid-19 yang belum berakhir dan dunia juga masih harus menghadapi sejumlah konflik geopolitik yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi.
dunia, dapat dikatakan bahwa dunia saat ini sedang mengalami situasi ketidakpastian.

“Dalam dua tahun terakhir, banyak pembatasan yang dilakukan untuk penanganan Covid-19, termasuk tidak boleh mudik lebaran, tapi ini demi kesehatan kita. Sekarang situasinya berbeda,
Alhamdulillah kita sudah di Level 1. Meski dalam satu minggu masih ada sekitar 5 ribu orang yang terinfeksi Covid-19, namun ini masih lebih baik dari negara lain seperti Amerika Serikat dengan 120 ribu orang terinfeksi per minggu, bahkan Jepang mencapai 200 orang. ribu,” kata Airlangga Hartarto. .

Menko Airlangga melanjutkan, di Indonesia hingga saat ini telah diberikan 420 juta dosis vaksin, dimana dosis pertama sudah mencapai 90% dari target dan dosis kedua 80%.
dari sasaran. “Saya berterima kasih kepada Kyai dan Ulama, karena berkat dukungan mereka, orang ingin divaksinasi dan kami menjadi salah satu yang terbaik di dunia,” kata Airlangga.

Tren ekonomi positif saat ini harus dipertahankan hingga pemulihan ekonomi nasional dapat tercapai sepenuhnya. Pemerintah juga memiliki kepedulian yang sangat serius dalam mengatasi kemiskinan ekstrim akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, Pemerintah juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong iklim perekonomian dan memfasilitasi dunia usaha. Berbagai program insentif disediakan untuk
pelaku usaha agar dapat mendorong perekonomian dan pelaku usaha agar mampu bangkit dari dampak yang ditimbulkan oleh pandemi.

“Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan melalui perbankan dan lembaga keuangan mikro harus dimanfaatkan untuk mendorong dunia usaha. Tentunya berbagai fasilitas dan peluang tersebut harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di masing-masing daerah,” kata Menko Airlangga lagi.

Menko Airlangga juga menyampaikan bahwa ponpes berperan penting dalam mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi bagi lingkungan ponpes itu sendiri dan
sekaligus penggerak ekonomi masyarakat sekitar. Sebagai lembaga di tengah-tengah masyarakat, keberadaan pondok pesantren selain memberikan pendidikan Islam, juga harus mampu menjadi lembaga yang mampu memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri secara ekonomi.

“Islam mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang mandiri, bekerja keras, dan memanfaatkan alam yang diberikan kepada manusia untuk kemaslahatan. Merujuk pada riwayat Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan bagi kita semua, di usia muda beliau telah
memberi contoh sebagai pengusaha,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Menko Airlangga meminta doa dari seluruh Kyai, Ulama, dan santri yang hadir pada acara tersebut agar bangsa Indonesia diberikan kekuatan untuk
mampu melakukan pemulihan ekonomi di tengah berbagai tekanan global saat ini, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. (ayam/ted)


artikel berita ini telah tayang di TintaSantri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *