Haruskah Kita Khawatir dengan Cacar Monyet?

Di tengah angin segar membaiknya situasi COVID-19, kami dikejutkan oleh wabah Monkeypox. Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh Inggris pada 7 Mei 2022, dan hingga saat ini sudah hampir 200 kasus dilaporkan ke WHO di negara-negara yang jauh dari daerah endemik virus tersebut.

Monkeypox telah terdeteksi di lebih dari 20 negara lain di seluruh dunia seperti Amerika Serikat (AS), Australia, Uni Emirat Arab dan beberapa negara Eropa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan hingga saat ini belum ada kasus positif penyakit menular cacar monyet di Indonesia.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah cacar monyet saat ini mungkin hanya puncak gunung es. “Kami tidak tahu apakah kami hanya melihat puncak gunung es, mungkin ada lebih banyak kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat,” kata Sylvie Briand, kepala kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO.

Monkeypox adalah penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Ditemukan pertama kali pada tahun 1958, terjadi wabah penyakit mirip cacar yang menyerang koloni kera yang dipelihara untuk diteliti, oleh karena itu penyakit ini dikenal dengan nama cacar monyet atau monkeypox.

Kasus cacar monyet pertama yang menginfeksi manusia tercatat pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo. Sejak itu, kasus cacar monyet dilaporkan telah menginfeksi orang di beberapa negara Afrika Tengah dan Barat.

Penularan Cacar Monyet
Virus monkeypox ditularkan ketika seseorang bersentuhan dengan virus dari hewan yang terinfeksi, orang yang terinfeksi, atau bahan yang terkontaminasi virus. Virus cacar monyet dapat menyebar dari hewan ke manusia melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, atau melalui penggunaan produk yang terbuat dari hewan yang terinfeksi.

Virus juga dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka dari orang yang terinfeksi atau dengan bahan yang telah menyentuh cairan atau luka tubuh, seperti pakaian atau linen.

Monkeypox juga dapat ditularkan dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan luka yang terinfeksi, atau cairan tubuh penderitanya. Penyakit ini juga dapat menyebar melalui droplet pernapasan melalui kontak yang lama dengan penderita.

Gejala dan Tanda Cacar Monyet

Gejala cacar monyet mirip dengan gejala cacar air, tetapi lebih ringan. Dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Perbedaan utama antara gejala cacar air dan cacar monyet adalah bahwa cacar monyet menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) sedangkan cacar air tidak. Masa inkubasi cacar monyet biasanya berkisar antara 6 hingga 13 hari, tetapi bisa juga 5 hingga 21 hari.

Gejala dan tanda cacar monyet:
• Sakit kepala
• Demam akut > 38,5 C
• Limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening)
• Nyeri otot/Mialgia
• Sakit punggung
• Asthenia (kelemahan tubuh)
• Lesi cacar (benjolan berisi air atau nanah di sekujur tubuh)

Dalam 1 sampai 3 hari (kadang-kadang lebih lama) setelah timbulnya demam, pasien akan mengalami ruam, sering dimulai pada wajah dan kemudian menyebar ke bagian lain dari tubuh. Penyakit ini biasanya berlangsung selama 2-4 minggu. Di Afrika, cacar monyet telah terbukti menyebabkan kematian pada 1 dari 10 orang yang terinfeksi penyakit tersebut.

Pencegahan Cacar Monyet
Mencegah infeksi virus monkeypox, dapat meliputi:
• Hindari kontak dengan hewan yang dapat menjadi reservoir virus (termasuk hewan yang sakit atau ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi).
• Hindari kontak dengan bahan apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit.
• Pisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi.
• Lakukan cuci tangan yang benar setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi.
• Gunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien yang terinfeksi
• Masak daging dengan benar dan matang

Prognosa
Monkeypox adalah penyakit self-limiting yang umumnya akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 2-4 minggu. Penyakit ini umumnya ringan dan jarang memerlukan rawat inap.

Namun, prognosis cacar monyet akan tergantung pada status kesehatan umum pasien, usia pasien, respon imun pasien, penyakit penyerta, dan komplikasi yang dialami. Pada pasien anak, kasus monkeypox cenderung lebih parah.

Meski penyakit cacar monyet ini belum dilaporkan ke Indonesia, namun kita tetap perlu waspada dan hati-hati. Jika menemukan gejala dan tanda seperti di atas, diharapkan dapat segera melapor ke fasilitas pelayanan kesehatan. (ted)

dr. Dinda Yuliasari
Dokter Umum RS Wates Husada Gresik


artikel berita ini telah tayang di TintaSantri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *