Pemahaman Mengenai Dimensi Budaya Hofstede dalam Menjalani Kehidupan

Pemahaman Mengenai Dimensi Budaya Hofstede dalam Menjalani Kehidupan

Surabaya (TintaSantri.com) – Kita sering menemukan berbagai ilmu yang mempelajari kehidupan. Ada beberapa pengetahuan yang kami temukan dari teori para ahli. Seiring berjalannya waktu, perubahan sering terjadi.

Ada pemahaman tentang “sekali dalam seumur hidup”. Mungkin kita sudah sering mengejar kalimat ini. Secara tidak langsung, kalimat ini membawa kita pada pemahaman untuk berada di jalur, konsisten, dan setia. Asumsikan bahwa hidup adalah kesempatan dan tidak boleh disia-siakan.

Dalam hal karir misalnya, semua orang tentu saja kami terus berkembang dan bekerja dengan baik. Namun, perubahan terus terjadi seiring dengan perubahan era dari Boomers ke yang lain. Sementara di kelas menengah bahkan perlindungan terhadap pekerja semakin berkembang.

Memahami Dimensi Budaya Hofstede dalam Menjalani Kehidupan

Faktanya, setiap orang memiliki kepribadian—sifat perilaku yang konsisten dapat memengaruhi segalanya. Sedangkan dari segi budaya dan organisasi dengan cara yang dapat diprediksi dalam mengolah informasi dan memahami dunia.

Secara umum, dari Hofstede tahun 1984, budaya memiliki lima dimensi, yaitu jarak kekuasaan, individualisme, maskulinitas, penghindaran ketidakpastian, dan orientasi jangka panjang. Ilmu ini memberikan panduan tentang dimensi budaya perilaku penggunaan e-commerce di Indonesia.

Ini penting, jika Anda belum pernah mendengar tentang karya Hofstede. Ilmu Hofstede menarik dalam memahami kelompok orang yang berbeda dalam keyakinan skala besar, dan dalam memahami bagaimana keyakinan memengaruhi cara mereka menavigasi dunia.

Akibatnya, kebanyakan orang berganti pekerjaan selama The Great Resignation mencari tempat yang lebih baik untuk keseimbangan kehidupan kerja yang lebih besar dengan budaya kerja yang sehat. Sedih rasanya ketika dalam waktu yang lama setiap penantian, kesetiaan, dan kesabaran tidak selalu terbalas, sehingga mencari ruang baru itu penting.

Pergeseran ke orientasi jangka pendek adalah satu-satunya hal yang masuk akal dalam melihat terowongan darurat iklim, kerawanan pangan, dan kerawanan ekonomi. Mengabaikan bahaya yang tak terhindarkan mengarah pada jenis stres kronis yang mengikis kesehatan mental. (PRD/ian)


artikel berita ini telah tayang di TintaSantri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *