Pengamat: Ekonomi Indonesia Masih Baik-baik Saja

Pengamat: Ekonomi Indonesia Masih Baik-baik Saja

Jakarta (TintaSantri.com) – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2022 mencapai US$141,07 miliar, meningkat 37,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2021. Sementara ekspor nonmigas mencapai US$133,31 miliar. , meningkat 37,33 persen.

Menurut ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman, perekonomian Indonesia masih ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat. “Perekonomian Indonesia cenderung kurang terbuka. Lebih dari 50% perekonomian Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik. Jadi dampaknya seharusnya tidak signifikan. Ditambah lagi permintaan batu bara tetap kuat meski China sedang melambat. Ini karena permintaan Eropa meningkat di tengah penurunan impor energi dari Rusia,” kata pria yang akrab disapa Oce, Senin (1/8/2022).

Hal lain yang perlu dikhawatirkan adalah tingkat inflasi domestik. BPS melaporkan laju inflasi domestik bulan lalu sebesar 0,64% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Lebih tinggi dari Juni 2022 yang sebesar 0,61%.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), laju inflasi mengalami percepatan. Inflasi Juli 2022 tercatat sebesar 4,94% yoy, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 4,35% dan tertinggi sejak Oktober 2015.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi inflasi, yaitu harga bahan pokok, transportasi dan konsumsi rumah tangga seperti listrik dan bahan bakar.

“Selain itu, kami masih memperkirakan inflasi akan terus meningkat secara substansial dan fundamental pada paruh kedua tahun 2022. Hal ini lebih disebabkan oleh peningkatan permintaan (demand-pull inflation) menyusul pelonggaran PPKM yang membuat masyarakat lebih leluasa bergerak dan beraktivitas. kecepatan uang berputar,” kata Oce. .

Meski tren inflasi diperkirakan akan terus meningkat, ia optimistis inflasi hingga akhir tahun akan berada di level 4,60%, sedikit di atas kisaran Bank Indonesia 3%+1.

Oce meyakini kondisi ekonomi Indonesia akan tetap baik. Apalagi jika dibandingkan dengan awal Pandemi, “Saya kira tidak akan separah pandemi Covid-19. Karena meski lemah, permintaan tetap akan membaik,” kata Oce.

Pasokan Berlimpah

Sementara itu, Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan, stok komoditas Indonesia memang dalam kondisi aman. Sektor pertanian Indonesia telah menunjukkan kinerja yang cukup baik dengan pasokan yang melimpah. Di sisi lain, input produksi banyak negara maju mengalami penurunan.

“Karena pada masa pemulihan COVID-19 dari sisi input produksi, negara-negara besar, tidak hanya Jepang, mengalami kelangkaan. Sementara di Indonesia kita mengalami over supply,” ujarnya.

Padahal, mereka membutuhkan pasokan komoditas untuk pemulihan ekonomi yang terdampak pandemi. Hal ini kemudian memunculkan wacana untuk ekspor dari Indonesia ke negara lain.

“Jadi sektor pertanian kita over supply, maka pupuk kita juga over supply. Bahkan ada keinginan untuk ekspor ke Afrika dan juga ke Amerika Latin,” tambahnya.

Ekonom Universitas Indonesia itu menyarankan agar pemerintah tidak berpuas diri dengan pasokan dalam negeri yang melimpah. Menurut dia, pemerintah harus mewaspadai permintaan komoditas dalam negeri yang juga menunjukkan peningkatan.

“Hanya saja dari sisi ekspor kita juga harus hati-hati. Jangan sampai ini terlalu agresif. Nanti kalau kita butuh langka. Saat ini kita sedang berkembang dari sisi permintaan, sehingga kita tidak biarkan optimal. permintaan pasokan input langka, “katanya.

Faisal mengungkapkan, hasil simulasi menunjukkan kemungkinan kerugian jika Indonesia terlalu agresif dalam mengekspor.

“Hasil simulasi menunjukkan bahwa jika kita mengekspor komoditas terlalu agresif, pada kuartal kedua 2023 mulai langka dan akhirnya berdampak negatif pada perekonomian,” katanya. [hen/but]


artikel berita ini telah tayang di TintaSantri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *