Setelah Covid-19, China Temukan Virus Baru ‘LayV’ yang Diduga Berasal dari Tikus dan Telah Menginfeksi Lusinan Orang

Setelah Covid-19, China Temukan Virus Baru ‘LayV’ yang Diduga Berasal dari Tikus dan Telah Menginfeksi Lusinan Orang

Surabaya (TintaSantri.com) – Tiga tahun setelah wabah COVID-19 yang menggemparkan dunia, kini diketahui bahwa China sedang memerangi wabah virus baru. Virus baru tersebut diberi nama Langya henipavirus (LayV).

Ilmuwan China dalam sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan di New England Journal of Medicine telah menulis bahwa virus LayV telah menyebabkan puluhan petani di China timur menderita beberapa gejala. Mereka mengeluh demam, lelah, batuk, mual, sakit kepala, dan muntah.

Ilmuwan mengatakan dari 35 pasien yang memiliki gejala di atas, hanya 26 pasien yang positif virus LayV. Sementara sembilan pasien lainnya dinyatakan positif patogen lain yang mungkin menyebabkan penyakit dengan gejala yang sama.

Sementara itu, laporan sejauh ini belum ada pasien LayV yang dinyatakan meninggal.

Para ilmuwan percaya bahwa virus LayV mungkin pertama kali muncul pada tikus, yang kemudian menularkannya ke manusia.

Dalam penelitiannya para ilmuwan menyatakan bahwa tikus adalah hewan “reservoir alami” bagi virus LayV. Sebelumnya para ilmuwan telah mempelajari 25 hewan di daerah tersebut, namun hanya tikus liar yang memiliki kemiripan genetik paling tinggi dengan virus LayV, yaitu 27%.

Kabar baiknya hingga saat ini, para ilmuwan mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan virus menyebar antara manusia dan manusia. “Tidak ada kontak dekat atau riwayat paparan umum di antara pasien yang menunjukkan bahwa ada infeksi pada populasi manusia,” tulis mereka.

Namun, hal ini perlu studi lebih lanjut mengingat ukuran sampel pasien terlalu kecil untuk membuktikan adanya penularan dari manusia ke manusia.

LayV merupakan bagian dari famili henepavirus, yaitu virus yang terdiri dari virus Hendra dan virus Nipah. Virus jenis ini dapat menyebabkan penyakit fatal pada manusia.

LayV juga dianggap terkait erat dengan Mojiang henipavirus, virus yang ditemukan pada tahun 2012 yang menyebabkan kematian tiga penambang di Cina selatan.

Apakah virus LayV berpotensi menjadi Covid-19 kedua?

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa virus LayV tidak akan sekuat COVID-19. “Pada tahap ini, LayV tidak terlihat seperti pengulangan COVID-19 sama sekali,” tulis Francois Balloux, direktur Institut Genetika Universitas College London di Twitter.

Penemuan wabah baru ini membuat beberapa negara mulai menunjukkan kewaspadaan. Pada Minggu (22/7/22), Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan memerintahkan laboratorium domestik untuk mulai mengurutkan genom dan meningkatkan pengawasan terhadap virus tersebut. (Kai/ian)


artikel berita ini telah tayang di TintaSantri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *