Tak Sekadar Hiasan, Ada Filosofi di Balik Tiap Motif Batik Tulis ‘Rasu’an Lampahan’ Mojokerto

Tak Sekadar Hiasan, Ada Filosofi di Balik Tiap Motif Batik Tulis ‘Rasu’an Lampahan’ Mojokerto

Mojokerto (TintaSantri.com) – Sebagai daerah yang pernah menjadi pusat Majapahit, tidak heran jika Mojokerto begitu lekat dengan karakter kerajaan yang menyatukan nusantara. Karakter tersebut terkandung dalam banyak hal, salah satunya pada motif batik.

Mojokerto memiliki banyak motif yang terinspirasi dari Kerajaan Majapahit. Salah satunya adalah motif batik tulis Rasu’an Lampahan dari Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang memiliki makna filosofis yang dalam.

Salah satu pengrajin batik Sooko, Lina Destiana Pratiwi (40), telah menghasilkan 25 motif batik. Bahkan salah satunya memiliki label Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), yakni motif Suko Projo Sawiji yang terinspirasi dari Ratu Tribhuwana Tungga Dewi.

“Sebenarnya, bisnis saya adalah perancang busana. Beberapa tahun lalu, UNESCO menyatakan bahwa batik ditentukan oleh kearifan budaya yang berasal dari Indonesia. Jadi saya merasa tergerak dan ingin mengembangkan desain saya tidak hanya di fashion design tapi di batik tulis,” ujarnya, Selasa (2/8/2022).

Beberapa bulan terakhir, ia mulai mendesain motif batik di Mojokerto. Salah satunya, Petilasan Tribhuana Tungga Dewi di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Keinginan itu disampaikannya kepada Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Mojokerto.

“Motif Surya Majapahit selalu muncul, saya mau ambil motif lain. Saya berbicara dengan Mbak Adelia dari Dispora, ternyata diperbolehkan. Sooko besar, di Sooko ada Petilasan Tribhuwana Tungga Dewi, akhirnya saya buat Suko Projo baru. Motif Sawiji,” ujarnya.

Lina menjelaskan, Suko Projo Sawiji merupakan motif batik tulis pertama yang dihasilkan Rasu’an Lampahan. Motif batik Suko Projo Sawiji diberikan secara khusus kepada Camat Sooko, Masluchman. Setiap motif batik yang dibuat Rasu’an Lampahan disesuaikan dengan profesi masing-masing pengguna.


“Seperti teman saya, dia punya keluarga. Maaf, saya punya anak cacat jadi saya mencoba memasukkan filosofi hidupnya dalam kain batik. Dia ingin digambarkan duduk bertiga menatap bulan, bulan cemburu melihat keluarga. Sebenarnya saya buat sesuai pesanan,” jelasnya.

Hingga saat ini sudah ada 25 motif batik yang telah diproduksi. Salah satunya adalah motif Suko Projo Sawiji yang sudah terdaftar di HAKI. Untuk bahannya dari katun karena lebih mudah perawatannya. Menurutnya, ia pernah membatik dengan kain sutra, namun pelanggan mengaku sulit mempertahankannya.

Pelanggan Saya tidak suka sutra, lebih sulit perawatannya sehingga mereka lebih suka katun. Karena jarang dipakai, kalau pakai sutera jarang dipakai, berubah warna dan menyetrika juga susah. Jadi kami menggunakan kapas primisis, kami menggunakan pewarna alami dan pewarna kimia untuk pewarnaannya,” ujarnya.

Seperti motif batik Suko Projo Sawiji, Lina menggunakan pewarna alami dari daun suji dan pandan untuk memunculkan warna hijau. Menurutnya, agar batik tahan lama dan warnanya tidak pudar hingga puluhan tahun, harus direndam minyak kacang terlebih dahulu.

“Pewarna juga berpengaruh, tapi meresap ke dalam kain membuat warnanya tidak mudah pudar. Bagi saya, pelanggan datang dari teman di media sosial dan selama pameran mereka mendapatkan hubungan. Jadi kebanyakan dari luar kota, seperti Malang, Surabaya, Jombang,” ujarnya.

Harga batik ‘Rasu’an Lampahan’ masih berupa kain dengan pewarna alami, jelas Lina, one piece berukuran 3 meter x 1,15 cm seharga Rp 2,5 juta. Untuk pewarna kimia harganya Rp. 600 ribu. Sedangkan untuk baju batik sarimbit sekitar Rp. 5 juta. [tin/beq]


artikel berita ini telah tayang di TintaSantri.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *